Apa Itu Blue Light dan Visible Light? Kenapa Kulitmu Perlu Perlindungan
Diperbarui 10 Oktober 2026 · Pertama terbit di blog BASE, 2021

Kulit kita terpapar cahaya hampir sepanjang hari. Selain sinar UV, ada juga visible light (cahaya tampak), termasuk blue light. Yuk, kenali apa itu visible light dan blue light, dan kenapa kulitmu juga perlu dilindungi darinya.
Apa Itu Visible Light?
Cahaya matahari terdiri dari sinar ultraviolet (UV), visible light, dan inframerah (IR).
Visible light adalah cahaya yang bisa dilihat mata, dengan panjang gelombang sekitar 400–700 nm. Hampir separuh cahaya matahari yang sampai ke permukaan bumi adalah visible light. Energinya memang lebih rendah daripada UV, tapi paparan terus-menerus tetap berpengaruh pada kulit.
Apa Itu Blue Light (HEV)?
Blue light adalah bagian visible light dengan panjang gelombang paling pendek, sekitar 400–490 nm, yang paling dekat dengan UV. Karena energinya paling tinggi di antara visible light, blue light juga disebut High-Energy Visible light (HEV).
Sumber terbesar blue light adalah matahari. Layar ponsel, laptop, dan TV juga memancarkan blue light, tapi dalam jumlah yang jauh lebih kecil.
Dampak Blue Light pada Kulit
Memicu hiperpigmentasi
Penelitian di PLoS One dan Pigment Cell & Melanoma Research menunjukkan bahwa visible light, terutama blue light, bisa memicu pigmentasi yang lebih gelap dan lebih lama bertahan. Efek ini lebih kuat pada kulit sawo matang hingga gelap (Fitzpatrick tipe III ke atas), termasuk banyak kulit orang Indonesia. Pada kulit seperti ini, blue light bisa memperparah flek dan noda bekas jerawat.
Memicu radikal bebas
Blue light bisa memicu terbentuknya radikal bebas (reactive oxygen species). Dalam studi laboratorium, paparan blue light dalam waktu lama membuat sel kulit rusak. Radikal bebas berlebih bisa merusak kolagen dan berkontribusi pada penuaan kulit.
Mengganggu skin barrier
Studi kecil di jurnal Photodermatology, Photoimmunology & Photomedicine menyinari kulit 22 sukarelawan sehat dengan blue light selama 30 menit per hari, selama seminggu. Hasilnya, pemulihan skin barrier mereka melambat, terlihat dari meningkatnya penguapan air dari kulit (TEWL).
Tidak semua blue light berdampak buruk. Pada panjang gelombang dan dosis tertentu, blue light justru dipakai dokter kulit sebagai terapi jerawat.
Apakah Layar Ponsel Mempercepat Penuaan Kulit?
Sejauh ini belum ada bukti kuat. Blue light dari layar jauh lebih rendah daripada dari matahari. Beberapa peneliti menduga paparan jangka panjang dari layar bisa berpengaruh, tapi buktinya masih terbatas. Yang jelas, blue light dari matahari jauh lebih penting untuk diwaspadai.
Cara Melindungi Kulit dari Blue Light
Pakai sunscreen dengan perlindungan blue light
Tidak semua sunscreen melindungi dari blue light. Filter fisik seperti Zinc Oxide dan iron oxide (pigmen yang memberi warna pada tinted sunscreen) bisa membantu menahan visible light. Antioksidan juga membantu menetralkan radikal bebas yang terbentuk.
Ultra Soothe Natural Sunscreen SPF 50 PA+++ dari BASE memakai filter hybrid, termasuk Zinc Oxide, dan Carotolino®, yaitu minyak biji dan ekstrak akar wortel yang kaya karotenoid, untuk membantu melindungi kulit dari UVA, UVB, dan blue light.
Pakai sunscreen setiap hari, di luar maupun di dalam ruangan
Cahaya matahari tetap masuk lewat jendela. Oleskan sunscreen sekitar 15 menit sebelum beraktivitas, dan ulangi setiap 2 jam saat berada di luar ruangan.
Perbanyak makanan kaya antioksidan
Sayur dan buah seperti bayam, kale, dan aneka beri, serta kacang-kacangan, kaya antioksidan yang membantu tubuh melawan radikal bebas.
Baca juga: Perbedaan PIE dan PIH
Referensi
- Arjmandi, N., Mortazavi, G., Zarei, S., Faraz, M., & Mortazavi, S. (2018). Can light emitted from smartphone screens and taking selfies cause premature aging and wrinkles? Journal of Biomedical Physics & Engineering, 8(4), 447–452.
- Campiche, R., et al. (2020). Pigmentation effects of blue light irradiation on skin and how to protect against them. International Journal of Cosmetic Science, 42(4), 399–406. doi:10.1111/ics.12637
- Chiarelli-Neto, O., et al. (2014). Melanin photosensitization and the effect of visible light on epithelial cells. PLoS One, 9(11), e113266. doi:10.1371/journal.pone.0113266
- Coats, J. G., Maktabi, B., Abou-Dahech, M. S., & Baki, G. (2021). Blue light protection, part I — effects of blue light on the skin. Journal of Cosmetic Dermatology, 20(3), 714–717. doi:10.1111/jocd.13837
- Duteil, L., et al. (2014). Differences in visible light-induced pigmentation according to wavelengths: a clinical and histological study in comparison with UVB exposure. Pigment Cell & Melanoma Research, 27(5), 822–826.
- Falcone, D., et al. (2018). Effects of blue light on inflammation and skin barrier recovery following acute perturbation. Photodermatology, Photoimmunology & Photomedicine, 34(3), 184–193. doi:10.1111/phpp.12367
- Randhawa, M., et al. (2015). Visible light induces melanogenesis in human skin through a photoadaptive response. PLoS One, 10(6), e0130949. doi:10.1371/journal.pone.0130949
Artikel ini untuk edukasi dan tidak menggantikan saran dokter. Untuk masalah kulit yang berat atau tidak membaik, konsultasikan ke dokter kulit.