Cara Patch Test Produk Skincare dengan Tepat
Diperbarui 10 Oktober 2026 · Pertama terbit di blog BASE, 2020

Baru mau coba produk skincare baru? Kalau kulitmu sensitif, kamu pasti sudah sering mendengar istilah patch test. Tapi patch test bukan hanya untuk kulit sensitif.
Biasakan patch test setiap kali mencoba produk baru, terutama yang mengandung bahan aktif yang belum pernah kamu pakai. Pembersih wajah, toner, serum, pelembap, dan sunscreen semuanya bisa di-patch test lebih dulu.
4 Langkah Patch Test Produk Skincare

1. Pilih bagian kulit yang sehat dan nyaman
Pilih area kulit yang sehat, tidak sedang luka atau berjerawat, dan nyaman dibiarkan selama 24 jam. Area yang ideal antara lain leher di bawah telinga, lekukan siku bagian dalam, lipatan dalam lutut, atau punggung bagian atas.
2. Bersihkan dan keringkan area tersebut
Cuci area yang dipilih, lalu pastikan benar-benar kering. Kulit yang bersih memudahkan kamu memastikan bahwa reaksi yang muncul memang berasal dari produk yang sedang diuji.
3. Oleskan sedikit produk
Untuk pembersih wajah, toner, serum, atau pelembap, satu tetes saja sudah cukup. Ratakan pada area kecil kulit.
4. Tutup dengan plester atau kapas
Idealnya, area patch test ditutup selama 24 jam dengan plester atau kapas agar produk tetap berada di area itu. Kalau kamu memilih tidak menutupnya, oleskan di leher bagian bawah telinga dan perhatikan reaksinya.
Cara Membaca Hasil Patch Test
Hentikan patch test lebih awal kalau muncul gatal, rasa panas seperti terbakar, perih, atau kulit terasa sangat kering. Lepas penutupnya dan bilas area tersebut dengan pembersih yang lembut. Reaksi seperti ini menandakan ada bahan dalam produk yang tidak cocok untuk kulitmu.
Kalau setelah 24 jam tidak ada reaksi, buka penutupnya. Kemerahan ringan karena tekanan plester itu normal dan biasanya cepat hilang. Tapi kalau kemerahan, gatal, bengkak, atau kulit mengelupas tetap ada, sebaiknya jangan gunakan produk tersebut di wajah.
Biasakan Patch Test Sebelum Mencoba Produk Baru
Sekalipun kulitmu jarang bermasalah, patch test tetap disarankan, terutama untuk produk yang lebih berpotensi mengiritasi, seperti vitamin C, retinoid, eksfoliator, pewangi, atau pewarna buatan.
Kalau kulitmu sensitif atau pernah mengalami eksim, pilih produk yang bebas pewangi dan pewarna buatan, dan perhatikan juga kandungan essential oil.
Sebagai contoh, Centamide Gentle Hydrating Cleanser dari BASE bebas pewangi buatan, pewarna buatan, alkohol, dan SLS, serta teruji hypoallergenic dan non-irritant (Mean Irritation Index 0,06). Meski begitu, patch test tetap kebiasaan baik untuk produk apa pun.
Baca juga: Purging atau Breakout? Kenali Perbedaannya
Referensi
- Goossens, A. (2007). Art and science of patch testing. Indian Journal of Dermatology, Venereology, and Leprology.
- Lazzarini, R., Duarte, I., & Ferreira, A. L. (2013). Patch tests. Anais Brasileiros de Dermatologia, 88(6), 879–888. https://doi.org/10.1590/abd1806-4841.20132323
- White, J. M. L. (2011). Patch testing: what allergists should know. Clinical & Experimental Allergy, 42(2), 180–185. doi:10.1111/j.1365-2222.2011.03862.x
Artikel ini untuk edukasi dan tidak menggantikan saran dokter. Untuk masalah kulit yang berat atau tidak membaik, konsultasikan ke dokter kulit.